Erupsi MERAPI 2010 (tak) membawa petaka

Kejadian erupsi Gunung Merapi pada bulan Oktober sampai November telah membawa cerita duka, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di lereng Merapi. Letusan yang ceritanya paling parah dalam 140 tahun terakhir mengakibatkan korban jiwa yang tidak sedikit. lebih dari 100 orang meninggal, termasuk juru kunci (Mbah Maridjan) yang bertahan demi melaksanakan tugasnya. Yang lebih parah adalah kejadian letusan berikutnya tanggal 4 November dengan korban jiwa yang lebih banyak. Hal ini karena masyarakat masih berpikir ketidakmungkinan luapan khususnya Kali Gendol hingga melumat dusun-dusun di sekitarnya.

Namun, dibalik kejadian tersebut, selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Material vulkanik yang digelondorkan Merapi, termasuk abu vulkanik yang disebarkan hingga ke seberang provinsi (Jawa Barat dan Jakarta) merupakan kemurahan Merapi untuk membagi kesuburan melalu materialnya. Memang pada beberapa daerah menyebabkan kerusakan material, tetapi tidak separah yang dikabarkan di televisi. Daerah-daerah yang mengalami kerusakan bukanlah saluruh wilayah kecamatan, bahkan tidak hancurnya suatu desa, melainkan dusun-dusun yang memang terletak pada jalur muntahan material vulkanik. Kerusakan pada daerah yang terkena abu vulkanik juga tidak mengakibatkan keparahan yang fatal. Isu yang mengatakan lahan terkena muntahan ataupun abu vulkanik tidak bisa ditanam hingga waktu 10 tahun adalah isapan jempol.

Berdasarkan pengamatan di lapangan kami beberapa saat yang lalu dengan mengunjungi Desa Kepuharjo serta mengelilingi lereng Merapi hingga Kecamatan Sawangan Magelang, menunjukkan kemurahan Merapi yang membagi kersuburannya. Memang beberapa tanaman mengalami kerusakan dan kematian, tetapi diduga lebih disebabkan karena akibat fisik saja, yakni ketika material ataupun abu vulkanik pertama kali dikeluarkan oleh Merapi masih mempunyai suhu yang tinggi, sehingga banyak tanaman terbakar dan rusak bahkan hingga mati. Adapun pengaruh kimia atau sifat meracun material dan abu vulkanik tidak begitu berbahaya, bahkan tanaman yang awalnya mengalami kerusakan dan menumbuhkan tunas barunya. Beberapa rerumputan juga tumbuh dengan kondisi yang lebih baik setelah kejadian erupsi. Hal ini membuktikan material dan abu vulkanik Merapi tidak menyebabkan keracunan pada tanaman.

Gambar lahan di Kepuharjo

Berdasarkan hasil analisis di lapangan pada beberapa hari setelah erupsi memang didapatkan nilai reaksi kimia tanah yang rendah atau masam (Disampaikan oleh Dekan FP UGM dalam Diskuni Penanganan Kawasan Pasca Erupsi Merapi di Yogyakarta). Namun setelah beberapa minggu dan guyuran hujan, nilai reaksi tanah pada lapisan material maupun abu vulkanik lebih rendah daripada tanah asli yang terletak di bawahnya. Hal ini karena ada reaksi yang menyebabkan perubahan unsur-unsur mineral menjadi hidroksida yang bersifat alkali dan menaikkan nilai reaksi tanah (pH tanah). Hal yang lebih penting adalah pencegahan kandungan unsur mineral pada abu vulkanik yang sangat kaya dan bermanfaat bagi tanah agar tidak hilang, yaitu dengan pemberiah bahan organik. Pemberian bahan organik akan menyebabkan mineral unsur terikat dan tidak mudah mengalami pelindian atau pelarutan.

Berdasarkan penyampaian Prof. Dr. Ir. Bambang Hendra Sunarminto, S.U. (Dosen Ilmu Tanah FP UGM), penanganan kawasan yang terkenan abu vulkanik perlu dibedakan menjadi 3 kriteria. Pada kawasan yang tertutupi abu dengan ketebalan kurang dari 2 cm dapat dilakukan pengolahan tanah langsung sedalam 20 cm tanah asli dan dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 1-2 ton/hektar. Tanah dengan ketebalan abu vulkanik 2 sampai dengan 5 cm dicampur dengan pupuk kandang 3-4 ton/hektar dan pengolahan tanah sedalam 50 cm. Serta tanah dengan ketebalan lebih dari 5 cm dilakukan pengambilan material vulkanik atau pengerukan (termasuk bongkahan batu) hingga ketebalannya tinggal 5 cm, kemudian dilakukan pengolahan seperti pada ketebalan abu 2-5 cm. Setelah dilakukan pengolahan, perlu diberikan pengairan hingga tanah cukup lembab.

Gambar bukti bahwa erupsi tidak berdampak racun karena rumpun bambu yang kering masih bisa menumbuhkan tunas baru setelah 1 bulan kejadian erupsi besar

Demikian semoga tulisan ini dapat bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar